Rabu, 01 April 2009

Magenta and Yellow Zinnia (Bunga Zinnia Warna Magenta dan Kuning)


Ujian akhir sekolah telah selesai. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat.
“Ini.” kata Sean sambil menyodorkan segelas jus melon padaku. Sean adalah pacarku. Sejak SMP kami telah menjalin hubungan. He is my first love! Tapi seperti biasa, dia tidak cukup perhatian sebagai seorang pacar. Sampai sekarang dia juga tidak tahu kalau aku alergi terhadap es. Pernah sekali aku bilang kalau aku alergi pada es dan aku langsung sakit flu kalau aku meminumnya meskipun hanya sesendok. Tapi keesokan harinya, Sean langsung lupa. Aku juga malas mengingatkannya karena menurutku, sebagai seorang cowok dia seharusnya peka pada keadaan pacarnya. “Kamu sudah tahu akan masuk jurusan apa?” tanyanya.
“Pendidikan dokter.”
“Benarkah?” tanyanya lagi.
“He eh.” aku mengangguk. Sean sendiri sudah mantap dengan pilihannya untuk mengambil jurusan Hubungan Internasional di UI.
Gaya pacaranku dengan Sean berbeda dengan orang kebanyakan. Kami sangat simple. Kami tidak SMS atau telpon-telponan setiap hari, ngapel dan pergi berdua pun sangat jarang. Itu karena kami tidak mau dengan status pacaran ini kami merasa terikat dan terganggu. Kami mendukung penuh masalah privacy! Dan kami merasa nyaman dengan hal itu. Kali ini pun kami berkomitmen untuk lebih fokus pada tes SPMB dua minggu lagi.
***
Hari ini adalah hari pertama ospek di kampus baruku, Fakultas Kedokteran. Tidak sia-sia selama ini aku berusaha keras dan fokus pada tes SPMB ku. Hasilnya, aku bisa meraih jurusan yang dari dulu aku cita-citakan, yaitu menjadi seorang dokter. Meskipun untuk masuk di jurusan ini juga tidak sedikit uang yang dikeluarkan, tapi semester depan aku akan berusaha mencari beasiswa. Dan satu hal lagi yang harus aku korbankan, yaitu Sean. Sudah lama sejak aku fokus pada ujian akhir sekolah dan tes SPMB, aku tidak menghubunginya lagi. SMS darinya pun jarang kubalas, atau kubalas meskipun singkat. Jarak yang jauh antara Jakarta-Malang semakin menjauhkan hubungan kami. Aku sempat berpikir untuk mengunjunginya ke Jakarta.
“Ayo, cepat membuat grup! Tiap grup terdiri dari 5 orang. Cepat-cepat!” teriak kakak senior di depan para MABA alias mahasiswa baru.
Aku yang sempat melamun karena kepikiran Sean, saat tersadar aku sudah berdiri di sebuah grup yang terdiri dari lima orang MABA, tiga perempuan dan dua laki-laki. Sekilas aku melihat sebentuk wajah yang sudah tidak asing bagiku. Hidung mancung, mata tajam, tulang-tulang wajah yang membentuk jelas, dan postur tubuh yang kurus-tinggi seperti tokoh manga Jepang. Yah, cowok itu mirip sekali dengan Sean! Kami pun berkenalan satu sama lain.
“Hi, namaku Ken.” kata cowok itu sambil tersenyum. Senyumnya pun membuatnya semakin mirip dengan Sean. Namanya juga mirip.
“Namaku Zinnia.” ucapku sambil membalas uluran tangannya.
“Zinnia?” ulang Ken yang sepertinya aneh mendengar namaku.
“Iya, Zinnia! Zinnia itu adalah nama…”
“Nama bunga.” jawabnya sambil tersenyum.
“Kok… tahu?” aku heran karena tak seorang pun yang kutemui yang tahu arti dari namaku selain papa dan mama. Dan Ken…
“Karena aku suka bunga.” katanya.
***
Setelah empat hari berlalu, ospek akhirnya selesai juga. Sekarang saatnya aku kembali ke kehidupanku seperti biasa. Karena ospek yang walaupun hanya empat hari itu benar-benar membuat tenaga dan pikiranku sangat letih. Aku jadi kangen pada Sean.
Hi, Sean. Bagaimana ospekmu di sana? Cerita-cerita dong! Miz u:)
Message sent successfully
Sudah satu jam tapi Sean belum juga membalas SMS-ku. Kenapa dia? Daripada berpikiran yang macam-macam dan bosan menunggu SMS Sean yang tak kunjung datang, akhirnya aku memustuskan untuk pergi ke perpustakaan umum kota Malang. Aku ingin meminjam buku farmakologi di sana. Setelah berkeliling mengamati satu-persatu buku di bagian rak farmakologi, akhirnya aku menemukan buku yang tebalnya hampir setebal bantalku itu.
“Zinnia?” tanya orang di sampingku yang juga hendak mengambil buku itu.
“Hi, Ken!”
“Kamu juga mau baca buku ini?”
“He eh.” kataku sambil menganggukkan kepala. “Kamu juga?”
“As you see.” jawab Ken.
Karena buku farmakologi yang kami cari hanya ada satu buah, kamipun memutuskan untuk membacanya bersama di ruang baca. Tidak kusangka ternyata Ken sangat pandai. Aku yang bingung dan kesusahan untuk mencerna materinya pun bisa mengerti karena penjelasan Ken. Dia juga sangat sabar mengajariku.
Hari berikutnya kami janjian bertemu di perpus lagi. Kali ini aku yang membantunya mempelajari anatomi. Kelebihanku di sini adalah aku yang penghapal cepat, aku tahu cara dan trik untuk menghapal nama dan letak organ tubuh manusia dalam waktu singkat. Di sela-sela belajar, Ken tidak segan-segan untuk melepaskan gurauannya. Kami semakin akrab, dan aku juga menyadari kalau ternyata Ken berbeda dengan Sean. Ken lebih lembut, ceria dan perhatian padaku daripa Sean. Aku merasa bahagia ada di samping Ken.
Hari-hariku berlalu tanpa Sean. Entah bagaimana Sean saat ini? Apakah dia juga memikirkanku?
“Kamu tahu nggak kalau bunga itu punya seribu bahasa?” tanya Ken dengan senyumnya yang khas.
“Oh ya?”
“Kamu tahu bahasa bunga untuk Zinnia?” tanyanya lagi.
“Ng… gak.” aku semakin bingung. Ken hanya tersenyum sambil menatap mataku. “Emang apa bahasa bunga untuk Zinnia?”
“Ra-ha-si-a.” jawabnya.
“Apa itu? Pake rahasia-rahasiaan segala... Penasaran tau!!”
“Bi-a-rin.” jawabnya menggoda.
“Aaargh… Nggak mau pokoknya harus kasih tahu!! Kamu tadi sudah bilang kan…”
“Aku sayang sama kamu.” Ken tiba-tiba menggenggam tanganku erat.
“A…” aku masih terbata-bata.
“Aku sayang sama kamu. Kalau berada di dekat kamu, aku merasa nyaman dan hangat. Aku nggak tahu apa ini yang namanya cinta? Apapun namanya, yang jelas aku tidak akan pernah membiarkannya hilang dariku.” Ken semakin erat menggenggam tanganku. Kedua tanganku. Aku merasa senang dengan ungkapan perasaan Ken yang menurutku tulus. Jantungku berdegup kencang. Sudah lama aku tidak merasakannya.
“Aku juga sayang sama kamu.” kataku.
Sejak saat itu kami berpacaran. Banyak hal yang kami share bersama, kuliah, cita-cita, masalah keluarga dan banyak hal yang tidak pernah aku bagi dengan Sean.
***
Lima bulan berlalu sejak Ken mengungkapkan perasaannya padaku. Saat kami berdua sedang memakai fasilitas free area hotspot di kampus, tiba-tiba ponselku berbunyi.
Surprise! Sekarang aku sudah ada di Malang. Kita ketemu yuk! Luv n miz u so much:D
Itu sms dari Sean.
“Ada apa?” tanya Ken.
“Nggak kenapa-kenapa kok.”
Jantungku berdegub kencang. Entah itu senang karena sudah lama tidak mendengar kabar dari Sean, atau takut karena aku saat ini telah berpacaran dengan Ken, atau ini chemistry yang sudah lama hilang antara aku dan Sean.
BUKK
“Sean! Sean!” aku mencoba membangunkannya yang pingsan saat duduk di sampingku. Matanya sempat menatapku lalu terpejam lagi. “Toloong!!!” aku menjerit dan meminta tolong pada orang-orang. Mereka pun membawanya ke rumah sakit.
Aku menungguinya semalaman. Aku memegang erat tangannya sambil menderaikan air mata. Kata dokter dia menderita penyakit jantung bawaan sejak kecil. Saat ini orang tua Ken sedang berbicara serius dengan dokter.
“Hei…” katanya rintih sambil memegang kepalaku.
“Ken…”
“Tadi kamu memanggilku Sean. Apa kamu belum bisa melupakannya?”
Aku tersentak. Aku tidak sadar telah memanggilnya Sean. “Tidak, Ken. Aku sayang padamu. Masalah Sean, sudah lama aku…”
“Tidak apa-apa… cukup aku tahu kalau kamu sayang padaku. Itu sudah cukup…” Ken masih bisa tersenyum dengan senyum lembutnya itu. “Kamu tahu bahasa bunga dari Zinnia?”
Aku menggeleng dan hanya bisa menangis melihat tubuhnya yang terbaring lemah.
“Aku suka bunga Zinnia warna magenta…” kata-katanya terputus.
“Magenta?”
“Zinnia warna magenta melambangkan kasih sayang yang abadi. Seperti rasa sayangku padamu. Aku tahu tidak selamanya aku bisa berada di sampingmu. Tapi bunga Zinnia yang kulukis abstrak di hatimu akan selalu abadi.”
Air mataku semakin deras mengalir. Ku kecup kening Ken dan kupegangi tangannya erat-erat. Dan….
Tiiitt…
Electrocardiogram yang terletak di atas meja berbunyi dan menunjukkan garis lurus…
“Keeenn!!!”
***
Empat tahun berlalu setelah kepergian Ken. Saat ini aku sedang koAss di sebuah rumah sakit umum. KoAss adalah istilah untuk mahasiswa praktik sebelum lulus sarjana kedokteran. Kalau Ken masih ada, pasti Ken akan di sini bersamaku. Dan sudah kuputuskan, aku akan mengambil spesialis jantung kelak. Karena bagiku Ken adalah bunga Zinnia berwarna kuning, yaitu kenangan…