
Manga (dibaca: ma-nga atau ma-ng-ga) berasal dari bahasa Jepang yang berarti ‘komik’. Sedangkan orang yang ahli menggambar manga disebut dengan mangaka. Kalau begitu kenapa tidak memakai kata ‘komik’ saja daripada manga? Hal itu dikarenakan kata komik memiliki arti yang lebih luas, bisa berarti komik Amerika (comic), komik China/Hongkong/Taiwan (manhua), komik Korea (manhwa) dan manga itu sendiri yang sudah kita kenal sebagai komik Jepang. Nah, sudah tahu kan kenapa kita pakai istilah ‘manga’?!
Berdasarkan jenis pembacanya, manga dibedakan menjadi 5 macam, antara lain:
- Manga yang ditujukan khusus untuk anak-anak (kodomo)
- Manga yang khusus ditujukan untuk wanita dewasa (josei)
- Manga yang khusus ditujukan untuk pria dewasa (seinen)
- Manga yang khusus ditujukan untuk remaja perempuan (shojo)
- Manga yang khusus ditujukan untuk remaja laki-laki (shonen)
Selain jenis manga di atas terdapat juga kategori manga yang bersifat pornografis, antara lain :
- Hardcore
- Ero-guro (erotic-grotesque)
- Futanari (hermafrodit)
- Kemono (hewan setengah manusia)
Menggambar kartun ala kartun Jepang alias manga ini dikenalkan oleh Osamu Tezuka (Bapak komik Jepang). Beliau terinspirasi oleh gaya kartun Amerika seperti Betty Bob dan Disney, yaitu dengan gambar mata yang besar-besar. Bedanya, Osamu Tezuka tidak memilih cerita seperti kartun-kartun Amerika yang sedang booming saat itu, yaitu menceritakan tentang super hero penyelamat dunia, Osamu justru memberikan jalan cerita yang lebih dalam dan rumit serta efek-efek lebay ala kartun Jepang. Hingga saat ini, gaya menggambar manga ala Osamu Tezuka diikuti oleh sebagian besar manga-manga di Jepang.
Gaya menggambar manga di Jepang rata-rata menggunakan gaya/style sederhana. Tetapi, gambar latar belakangnya hampir semua manga digambar serealistis mungkin, biarpun gambar karakternya benar-benar sederhana. Para mangaka menggambar sederhana khususnya pada bagian muka, dengan ciri khas mata besar, mulut kecil dan hidung sejumput.

